Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Februari 2014

AWAS…!!!! SUAP DI SEKITAR KITA



Coba deh anda fikir, Apa sih yang gratis untuk Zaman sekarang????? Hampir tidak ada, bahkan di perkotaan semua serba bayar contohnya nih parkir, buang kotoran(maaf), bahkan tak jarang shalatpun dimintai bayaran. Saya pernah melakukan perjalanan ke pulau Jawa sampai ke ujung timur, lewat jalan rusak sedikit saja kita harus merogoh kocek untuk bayar pungutan liar, kita mau shalat di masjid pun dimintai ongkos parkir kendaraan wooooowww, walaupun nilainya Cuma sedikit tapi……#####ironis!!!! Untuk urusan KTP, KK, pajak kendaraan serta surat menyurat yang berhubungan dengan pemerintahan semua harus pake Duit yg licin dengan alasan biar prosesnya lebih cepat…..kita kasih gak yaaaa????? JANGAN, karena kita akan terjerumus dan menjerumuskan saudara kita pada masalah RUSYWAH/SUAP-MENYUAP.

Berikut ini  contah cerita yg terjadi di lingkungan tempat saya tinggal dan sedikit penjelasan dari saya, Maksudnya saya mencoba mejelaskan masalah ini dengan cara saya sendiri. Semoga tidak ada yg merasa “kenek’an” istilah bahasa jawa sumatera yg insyaallah artinya “terkena cerita/yg saya ceritakan pernah dilakukannya”.
Tak jarang dengan semakin susahnya lapangan pekerjaan, dan semakin bertambahnya pengangguran orang berlomba-lomba mendapatkan pekerjaan dengan menghalalkan segala cara, SUAP/UANG PELICIN salah satunya.  Tak heran SK Pegawai ratusan juta pun di bayari, so…..apakah hal tersebut dihalalkan atau diharamkan dalam agama kita??? Dengan tegas saya jawab itu “tidak boleh di lakukan” atau HARAM, suap dalam buku kamus besar Bahasa Indonesia adalah uang sogok. Suap dalam bahasa arab adalah risywah atau rusywah.Secara terminologis kita bisa mengartikan suap/rusywah sebagai mengantarkan sesuatu untuk hal yg diinginkan dengan mempersembahkan sesuatu. Di dalam Al-Qur’an, Alloh SWT  berfirman:
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian lain di antara kamu dengan jalan yg bathil dan (Janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (Al-Baqarah: 168)
Dari ayat di atas kita bisa tahu bahwa Alloh tidak menghalalkan suap menyuap atau mengambil hak orang lain dengan cara menyuap karena itu perbuatan batil. Jadi sudah jelas bahwa suap adalah pemberian yg diharamkan syariat. Suap dan hadiah itu dua hal yang sangat berbeda. Beda suap dengan hadiah ialah, Suap memberikan sesuatu dengan syarat tertentu dan biasanya diberikan secara sembunyi-sembunyi  kalau hadiah , pemberian yg tidak bersyarat dan diberikannya tidak perlu sembunyi-sembunyi. Karena biasanya praktik suap menyuap di dalihkan sebahagai hadiah.
“Wahai orang-orang yg beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil “. (An-Nisa’: 97)
Penjelasannya “Jangan kalian memakan.” Yang di maksud “makan” disini adalah segala bentuk tindakan, baik mengambil atau menguasai (menempuh caranya) salah satu bentuk caranya ya SUAP. Coba deh sekarang kita bayangkan “ kita mendapatkan pekerjaan yg seharusnya pekerjaan tersebut menjadi milik orang lain karena kita menyuap/rusywah maka pekerjaan itu menjadi milik kita. Cerita tidak habis Cuma sampai disini lho sob, akhirnya kita menikah dengan pacar lama kita, kita hidup bahagia dengan harta berlimpah, Alloh menyempurnakan dengan sepasang anak yg lucu dan manis, TAPIIIiiii  yg seharusnya setiap hari makan dari hasil kerja keras kita yg halal pada kenyataannya malah di ragukan kehalalannya, kita malah terjerat  PASAL oleh Alloh dalam BAB RUSYWAH/SUAP dengan pidana kurungan di NERAKA.
“Barangsiapa merampas hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkan baginya surga,” maka salah seorang bertanya,”meskipun sedikit wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab,” Ya, meskipun hanya setangkai kayu sugi (siwak)”. (HR Muslim)
“Sungguh akan datang kepada manusia suatu masa, yaitu seseorang tidak lagi peduli dari mana dia mendapatkan harta, dari jalan halal ataukah (yang) haram”. (HR Bukhari)
Hal di atas, sebagai contoh kecil yang terjadi di masyarakat kita. Ironi sekali, penyebab utamanya tentu ketidak tahuan dan kurangnya ilmu agama yang mereka miliki. NGAJI...yah Ngaji sesuatu yang gratis dan mempunyai manfaat serta efek luar biasa dalam hidup kita. Dengan mengaji otomatis pengetahuan kita tentang hukum Alloh dan Assunah menjadi luas, segala sesuatu yang akan kita lakukan tentu akan kita fikirkan resiko dunia dan akhiratnya. Ngaji akhirnya bisa menjadi benteng yang kuat terutama buat  diri kita, terus keluarga dan tentunya Negara kita sebagai cakupan terluasnya.

Oleh: Dedy Soedijarto

Jumat, 10 Januari 2014

SHALAT WITIR

Apalagi yang bisa mendorong diri ini untuk witir? Dalil sudah. Contoh ada. Kenapa masih saja mengentengkan witir ini? Witir? Sunnah kan? Kadang bolak-balik hati ini susah dimengerti.
Gara-garanya cuma ditanya; “Piye mas witirmu?” Bukannya menjawab, tetapi malah nyingkur. Akibatnya sampai sekarang masih terus berbekas. Rasa malu itu terus menggejolak. Hati gemuruh berontak. Mendorong diri ini terus maju menggapai jawaban pertanyaan itu. Padahal mungkin si penanya hanya bergurau saja. Ya, itulah jalan pencerahan. Setelah sekian cara mencari momentum, tak disangka datang dengan amat sederhana. Jadilah peristiwa itu menjadi titik balik untuk melaksanakan shalat witir berkelanjutan. Apalagi setelah mengulas kembali dalil di bawah ini.

Dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Abu Bakar, ‘Kapan engkau shalat Witir?’ Dia menjawab: ‘Aku shalat Witir sebelum tidur.’ Beliau lalu bertanya pada ‘Umar, ‘Kapan engkau shalat Witir?’ Dia menjawab, ‘Aku tidur kemudian shalat Witir.’” Dia (Abu Qatadah) berkata, “Beliau berkata kepada Abu Bakar: ‘Engkau telah mengambilnya dengan hati-hati.’ Dan berkata kepada ‘Umar: ‘Engkau telah mengambilnya dengan kekuatan.’ (Hasan Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 988)], Shahiih Ibni Khuzaimah (II/145 no. 1084), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/311 no. 1421), Sunan Ibni Majah (I/379 no. 1202).

Dari Abu Ayyub al-Anshari Radhiyallahu anhu, ia menuturkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Shalat Witir adalah haq (benar adanya), maka barangsiapa yang mau, maka berwitirlah lima raka'at, barangsiapa yang mau, berwitirlah tiga raka'at dan barangsiapa yang mau, berwitirlah satu raka'at." (HR. Abu Dawud dalam kitab ash-Shalaah, bab Kamil Witr, hadits no. 1421)


Dari Abu Bashrah al-Ghifari Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 'Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi kalian tambahan shalat, yaitu shalat Witir, maka shalat Witirlah kalian antara waktu shalat 'Isya' hingga shalat Shubuh.'" [HR. Ahmad].

Sebenarnya tak ada apa – apa, saya hanya penasaran, kenapa sih tidak bisa melakukan sholat witir? Kenapa hanya di bulan puasa saja tertib witirnya? Di bulan yang lain kok tidak tertib? Dan saya sudah berusaha untuk bisa menjalankan salah satu sunnah tersebut. Hasilnya masih juga bolong – bolong. Berbagai kiat dan giat sudah dilakukan, akhirnya saya menjatuhkan pilihan melakukan sholat witir sebelum tidur. Itu yang saya mampu. Itu yang saya bisa.

Mungkin kadang terlihat aneh, sore – sore kok witir. Habis mau bangun malam kadang kebablasan. Sejujurnya bukan kadang – tetapi banyak bablasnya - ketimbang bangunnya sehingga gak witir. Niat sih ada terus, tapi apakah hidup ini cukup dengan niat saja? He, he, he,,,,gubrakkkk,,,Innamal a’malu binniyyat.

Dulu Pak ustad di kampung saya memberikan wejangan - tip yang sederhana dan ciamik. Dia bilang, “Untuk melatih sholat witir, tambahkanlah sehabis sholat sunnah ba’da isya 1 rekaat saja.” Maka dulu kami pun ramai – ramai mengerjakannya sehabis sholat sunah ba’da isya. Sekian waktu berlalu dan semakin meluntur kegiatan itu, saya terpacu lagi untuk memulainya - sebagai bagian taqorrub ilallah dari hamba yang lemah ini. Semoga tidak terlambat, seperti kisah Abu bakar dan Umar di atas.

Ya, ini memang sunah bukan wajib. Bahkan mungkin ada yang mencibirnya. Namun bagi saya adalah sebuah jalan besar menuju kecintaan kepada Allah. Di samping jalan lain yang mungkin orang tempuh. Sebab banyak jalan menuju keridhoan Allah, bukan hanya ke Roma saja.

Nah, bagi yang mau menempuh jalan sholat witir untuk mempertinggi derajat amalannya berikut beberapa dalil tentangnya.

Dari Ali ra., ia berkata, ‘Witir bukan keharusan seperti sholat wajib kalian, akan tetapi Rasulullah SAW biasa melakukannya, dan Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah adalah witir, mencintai witir, maka lakukanlah sholat witir wahai ahli qur’an.” (Rowahu Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah)

Dari Jabir ra., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa khawatir tidak bangun di akhir malam, maka hendaknya dia berwitir di awalnya, dan barangsiapa yakin akan bangun di akhir malam, maka hendaknya dia berwitir di akhirnya, karena sholat diakhir malam disaksikan dan dihadiri (oleh malaikat) dan itu lebih utama.” (Rowahu Muslim).

Dari Jabir ra., dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai ahli qur’an, berwitirlah kalian karena Allah adalah witir dan menyukai witir.” (Rowahu Abu Dawud).

Dari Abu Tamim al-Jaisyani, dia berkata, aku mendengar Amru bin al-Ash berkata, seorang lelaki memberitahukan kepadaku bahwa Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah menambahkan satu sholat kepada kalian, maka tegakkanlah ia diantara isya dan shubuh, yaitu sholat witir”. (Rowahu Ahmad)

Dari Abu Huroiroh r.a, dia berkata, ”Kekasihku SAW mewasiatkan kepadaku tiga perkara, agar aku berpuasa tiga hari setiap bulan, melaksanakan sholat dhuha 2 rekaat dan melaksanakan sholat witir sebelum tidur.”[Rowahu Al-Bukhory (Kitaabu al-Jumu’ati), Muslim ( Kitaabu Sholaati al-Mufaasiriina wa qoshrohaa), Abu Dawud (Kitaabu As-Sholaah), at-Tirmidzi (Kitaabu as-Shoumi) dan an-Nasa’i (Kitaabu as-Shiyaami)].

Jadi, sekarang bukan hanya salam saja yang dijangkepi witir. Sholat sunnah pun rasanya perlu juga diperjuangkan. Mari, kerjakan witir. (pf)

Sumber www.ldii.or.id

Selasa, 07 Januari 2014

Generasi Muda di Era Globalisasi

Berbagai kemajuan di bidang teknologi selain membawa manfaat bagi kehidupan manusia juga berdampak negatif. Kemaksiatan, kerusakan moral, pelanggaran-pelanggaran terhadap syariat agama semakin merajalela. Kesemuanya menjadi cobaan dan tantangan berat yang harus dihadapi oleh generasi muda.
Maka para remaja  dituntut benar-benar menjadi generasi yang ahli ibadah, berakhlaqul karimah, mandiri,  faham agama dan alim serta memiliki ketaqwaan yang tinggi, sehingga mampu membentengi diri dari berbagai macam dan bentuk kerusakan remaja di era globalisasi dan modernisasi.
Empat belas abad yang silam Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan berbagai macam bentuk kerusakan yang bakal terjadi pada zaman akhir, sekarang telah menjadi kenyataan. Perilaku pergaulan yang sudah tidak lagi mempedulikan antara halal-haram, dosa-pahala dan baik-buruk tidak menutup kemungkinan akan mempengaruhi pola hidup generasi muda, terjerumus dalam pergaulan bebas, perzinaan, tawuran, kecanduan narkoba, minuman keras dan pengaruh jelek lainnya.
Agar generasi muda tidak terjerumus dalam pengaruh-pengaruh jelek, ada 3 hal yang harus dilakukan, di antaranya :
1. Mendekatkan diri kepada Allah
Untuk menjaga kesehatan ginjal, harus tetap banyak minum, walau tidak merasa haus. Untuk mejaga kesehatan hati (qolbu), harus tetap banyak istigfar dan minta maaf, walau tidak merasa salah.
Agar remaja tidak mudah terpengaruh oleh ajakan atau bujukan kawan dan mampu mengatasi rasa keingintahuannya, maka remaja harus meningkatkan pendekatan dirinya kepada Allah SWT yaitu dengan menertibkan dan meningkatkan ibadah, semisal meningkatkan kekhusyuan sholat dan banyak melakukan sholat-sholat sunnah terutama sholat malam, sambil memohon penjagaan dan keselamatan dari Allah dari berbagai macam kemaksiatan.
Firman Allah SWT:
“Dan tegakkanlah sholat, sesungguhnya sholat itu bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (Surat Al-Anqabut ayat 45)
Bilamana telah menjalankan sholat, namun perbuatannya tak terjaga, kemungkinan ada yang salah dalam sholatnya hamba. Dia baru sekedar sholat secara fisik tapi belum mampu menjiwai nilai-nilai akhlaq yang terkandung dalam sholatnya.
Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
Menetapilah kalian dengan sholat malam sebab sesungguhnya sholat malam itu kebiasaan orang-orang sebelum kalian dan bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah, mencegah dari dosa, menghilangkan dan menolak penyakit dari tubuh. (HR Tirmidzi)
2. Memilih teman bergaul yang baik dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang positif.
Pergaulan akan mempengaruhi perilaku seseorang. Orang yang berteman dengan orang yang baik, kemungkinan besar ia akan baik. Sebaliknya orang yang berteman dengan orang buruk, kemungkinan besar ia juga akan terpengaruh menjadi buruk. Karena itu, remaja hendaknya memilih teman yang baik, yang kuat agamanya, kuat imannya, yang ahli ibadah agar ia juga ikut baik.
“Perumpamaan teman bergaul yang sholih dan teman bergaul yang jelek adalah sebagaimana penjual minyak wangi dan ubupan (perapian) pandai besi. Penjual minyak wangi tidak akan melewati padamu, adakalanya kamu akan membeli minyak wangi itu darinya, atau (paling tidak) kamu akan mendapatkan bau wanginya. Dan (sedangkan) pandai besi akan membakar badanmu atau pakaianmu atau (paling tidak) akan kamu dapatkan bau sangitnya.”(HR Bukhori)
Oleh karena itu menentukan teman bergaul adalah sangat penting, karena sebagian waktu kita berada di sisi teman pergaulan kita. Sedangkan manusia memiliki kelemahan, mudah mengikuti sesuatu yang cenderung melanggar peraturan agama. Dengan banyak bergaul dengan orang yang faham, maka walaupun tidak bisa belajar ilmu kepadanya, paling tidak sebagian waktu kita akan banyak disibukkan dengan hal-hal yang baik dan mengurangi waktu-waktu untuk melanggar dan maksiat.

“Seorang laki-laki itu menetapi kebiasaan teman dekatnya, maka hendaklah ia melihat siapa yang menjadi teman dekatnya.” (HR Abu Dawud)
LDII selalu mengadakan pengajian khusus remaja setiap seminggu sekali dengan materi Alquran dan Alhadits serta dibekali nasehat agama sebagai pembinaan generasi muda. Dengan mengikuti dan menyibukkan diri dalam kegiatan-kegiatan yang positif seperti giat menghadiri pengajian, komunitas hobi, sepakbola, basket, Persinas, kursus ketrampilan dan lain-lain, seorang remaja akan terhindar dari kekosongan waktu.
Kekosongan waktu biasanya mendorong remaja keluar rumah dan menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang dapat menyeret dirinya kepada hal-hal yang negatif termasuk penyalahgunaan narkoba. Namun jika seorang remaja memiliki banyak kegiatan, ia tidak sempat lagi mengajak teman-temannya untuk mengerjakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya.

3. Peran Orang Tua.
Orang Tua memiliki peran penting dalam mendidik, menjaga, mengawasi, komunikasi efektif tumbuh kembang anak di era globalisasi dan modernisasi ini.
Dengan maraknya korupsi, kejahatan, kekerasan dan pergaulan bebas, maka mendidik anak hanya agar sekedar pintar (pintar komputer, pinter matematika, dan sebagainya.) tanpa dibarengi dengan pendidikan agama dan akhlaqul karimah, bisa jadi hanya akan mencetak calon-calon koruptor atau calon penjahat. Maka utamakan pendidikan moral dan agama sejak dini agar generasi penerus kita menjadi masyarakat yang santun, jujur dan amanah. Sholeh sebagai individu, sholeh juga sebagai warga masyarakat dan professional religious.
Orang tu juga harus menekankan anaknya agar memiliki pandangan yang luas dan berwawasan ke depan. Harus mampu memikirkan semua perbuatannya, apa dampak positif dan negatifnya. Jika suatu perbuatan akan mendatangkan dampak negatif, maka mereka harus menjauhinya. Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
Ketika kamu akan mengerjakan suatu perkara maka pikirkanlah, jika perkara itu baik maka teruskanlah dan jika perkara itu jelek maka berhentilah. (HR Ibnu Mubarok)

Sumber www.ldii.or.id