Minggu, 29 Juli 2012

LDII-Belitang: Permata CAI ke-33 Menjadi Contoh dalam Kerukunan Umat Beragama


Laporan: Arifin Rusdi
Wonosalam (NOL) – CAI (Cinta Alam Indonesia) Jombang, bekerja sama dengan Pondok Pesantren Gadingmangu Perak menyelenggarakan kegiatan bertajuk Perkemahan Akhir tahun Ajaran Permata CAI ke-33 tahun 2012.
Bertempat di bumi perkemahan Kosambiwojo Wonosalam Jombang, helatan ini berlangsung dari tanggal 2-5 Juli 2012 yang kemudian dilanjutkan di daerah-daerah di seluruh Indonesia.
Revitalisasi kepemudaan yang meliputi revitalisasi visi, misi, pemikiran, cita-cita, organisasi, kepemimpinan, dan aktualisasi aksi, adalah ikhtiar merekonstruksi kembali eksistensi pemuda dalam membangkitkan semangat pemuda agar punya jiwa kemandirian, entrepreneurship, ketrampilan yang berdaya saing global yang berkualitas dan tentu bersendikan ideologi bangsa yang bersandar pada Alquran dan Sunnah Rosul.
Berlandaskan hal diatas, seperti taun sebelumnya, CAI (Cinta Alam Indonesia), tahun ini  menyelenggarakan kegiatan bertajuk Perkemahan Akhir Tahun Ajaran (Permata) yang ke-33. Dengan mengusung Motto Pemuda Beriman, Kecil Terbina, Muda Berkarya, Hidup Bersahaja, Berkeluarga Bahagia, Tua Sejahtera, Mati Masuk Surga.
Perkemahan akhir tahun ajaran yang diikuti oleh sekitar 1.800 peserta dari siswa siswi dan alumni Pondok Gading Mangu  yang telah menyebar  keseluruh Indonesia hingga negeri tetangga semisal Malaysia, Singapura, Australia, dan lain lain ini dikunjungi oleh hampir 25.000 pengunjung selama acara berlangsung.
Makna kegiatan ini menurut Didik Tondo Susila SH, MSi, selaku ketua panitia, dalam laporan pada pembukaannya mengatakan bahwa perlunya pemuda digembleng agar mereka terbentuk menjadi insan yang berjiwa Pancasilais, bebas narkoba, terbebas dari asap rokok sehingga nantinya mampu menjadi pelanjut tongkat estafet bangsa indoesia yang adil, sejahtera, beradab sesuai dengan cita-cita para leluhur.
“Sebagai calon pemimpin bangsa, Generasi  Muda harus menjadi insan yang Pancasilais, terbebas dari Narkoba, terbebas dari segala hal yang mengakibatkan rusaknya mental spiritual, sehingga mampu melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa dengan baik, sehingga bisa membawa bangsa ini kearah yang lebih baik yang bisa berkeadilan, sejahtera, beradab dan bermartabat sebagaimaan yang dicita-citakan oleh para leluhur pendiri bangsa ini”, ujar Didik.
Khusus bagi para Santri, Pelajar, dan Mahasiswa PP Gadingmangu, perkemahan ini  adalah ajang untuk mengisi liburan  aktivitas belajar baik sekolah, pondok maupun kampus agar liburannya punya makna yang positif, dan bermanfaat.
Perkemahan  yang mengambil thema “kekeluargaan, kerukunan, cinta kasih sesama dan lingkungan,”arahannya kemudian adalah membentuk karakter pemuda yang sehat, dinamis, demokratis, sehingga  bagi para peserta setelah kegiatan ini akan tumbuh berkembang menjadi insan yang professional-religious.
Sedangkan bagi masyarakat sekitar, kegiatan perkemahan CAI ini memiliki dampak positif, terutama bagi roda perekonomian, terbukti  dengan adanya 170 stand Pasar secara tradisional walau hanya temporer.
Pada perkemahan Permata CAI yang ke 33 tahun 2012 ini juga diselenggarakan berbagai macam acara seperti pembagian sembako, gelar budaya santri, pameran promosi UKM/IKM Santri, ceramah, diskusi Workshop yang bermaterikan seputar pemuda dan persoalanya.
Pembukaan permata CAI tahun ini terasa sangat luar biasa karena dihadiri seluruh Muspida Kabupaten Jombang, Wakil Bupati, Ketua DPRD, Kapolres, Dandim 0814, Ketua Pengadilan Negeri, Kajari, Dan satrad 222 Kabuh, Ketua FKUB, Ketua FKMJ, PC INTI, Persatuan Gereja, PHBI Hindu Darma, Persatuan istri Anggota DPRD Jombang, Tokoh masyarakat seperti dari NU dan Muhammadiyah, hingga Muspika Wonosalam, dan Muspika sekitar. Hadir pula dari ketua DPW LDII Jawa Timur H. Criswanto Santoso.
Sementara Pembukaannya sendiri dibuka oleh Gubernur Jawa Timur yang diwakilkan kepada Ketua Bakorwil Bojonegoro, yang sekaligus membacakan sambutan Gubernur Soekarwo.
Sementara itu Wakil Bupati Jombang Widjono Soeparno saat berikan sambutan mengatakan event seperti ini wajib dipertahankan karena telah menjadi tradisi tahunan yang efeknya tentu Jombang sebagai Kota Santri layak dijadikan contoh dalam kerukunan umat beragama disamping tak kalah pentingnya karena para pesertanya mayoritas para pemuda maka harapanya para tunas-tunas bangsa ini wajib diarahkan ,dibekali ketrampilan, membangkitkan jiwa enterpleanur agar kelak setelah dewasa menjadi manusia mandiri yang teguh tangguh, dalam kehidupan keseharian mengedepankan akhlakul karimah.
Dr. Idris MSi, Ketua Bakorwil Bojonegoro yang mewakili Gubernur Jawa Timur  setelah membacakan sambutan Gubernur mengungkapkan “Jombang merupakan kota komplit, dimana banyak melahirkan tokoh-tokoh Kaliber Internasional, oleh karena itu kegiatan ini kedepannya dapat melahirkan tokoh andal”, tegasnya.
Bupati Jombang Soyanto yang tidak sempat menghadiri pada saat pembukaan Permata CAI tahun ini, menyempatkan hadir pada penutupan yang sekaligus secara resmi menutup acara tersebut./**
arifin.rusdi@gmail.com

Sabtu, 24 Maret 2012

Kun Fayakuun, “Jadi!” Maka Jadi

Tiba-tiba saja ayat tentang “Kun Fayakuun” menjadi beken. Pertama, karena buku “Kun Fayakuun”, bahkan “Kun Fayakuun For Kids” segala. Kedua, karena film/VCD “Kun Fayakuun”. Ketiga, karena seminar “Kun Fayakuun For Your Business”.  Entahlah, nanti akan muncul “Kun Fayakuun” versi apa lagi.

Padahal ayat itu bukan ayat sembarang ayat, melainkan ucapan Allah ketika menghendaki sesuatu. Mulai dari penciptaan alam semesta, penciptaan Adam, penciptaan Hawa, penciptaan Isa, dst, dst, yang atas semua yang dikehendaki-Nya Alloh cukup mengatakan “Kun” Jadi! Maka jadi.

Munculnya ayat itu berulang-ulang sebanyak 8 kali di surat:ayat 2:117, 3:47, 3:59, 6:73, 16:40, 19:35, 36:82, 40:68 tentunya untuk semakin menegaskan kepada ummat manusia bahwa Alloh itu adalah Dzat Yang Maha Menguasai atas segala sesuatu. Adapun manusia, boro-boro menguasai makhluk ataupun dzat lain, menguasai diri sendiri saja tidak bisa. Tulisan ini bukan resensi atas berbagai versi tersebut diatas tadi.
 
Ubun-ubun
Bagaimana manusia bisa mengusasai sesuatu jika ayat Al-Quran menyatakan bahwa ”Maa min daabbatin illaa Huwa  aakhidun binnashiyatihaa – tidak ada makhluk yang melata kecuali Alloh memegang ubun-ubunnya”?.
Nah, karena ubun-ubun semua manusia itu ternyata berada di dalam genggaman Alloh, maka apapun yang dikerjakan manusia, semua itu semata-mata adalah karena kehendak-Nya.
Di hadits diriwayatkan Adam nanti akan ramai-ramai dikeroyok disalahkan anak-turunnya mengapa melanggar perintah Alloh memakan buah khuldi sehingga Adam-Hawa diusir dari sorga, beranak-pinak di dunia, bermusuh-musuhan, perang, dan saling mengalirkan darah. Padahal perintah Alloh sederhana sekali: “Walaa taqrobaa haadzihis syajaroh - Jangan dekat-dekat ini pohon”.
Awalnya Adam itu menurut. Tetapi lalu Iblis berbisik bahwa sebenarnya maksud Alloh melarang Adam memakan buah itu supaya Adam tidak jadi makhluk yang kekal, tidak tua, tidak mati. Akhirnya setelah menggoda dengan berbagai cara, termasuk melalui rayuan Hawa, Iblis berhasil.
Bagaimana respons Nabi Adam? Hanya tersenyum. Mau bagaimana lagi kalau Alloh Dzat Yang Maha Memegang Ubun-ubun menghendaki jalan ceritanya demikian? Mau bagaimana lagi kalau Adam awalnya digerakkan untuk taat, tetapi kemudian Adam digerakkan untuk menentang?

So, pergerakan bermilyar-milyar manusia di muka bumi ini, semua adalah atas kehendak Alloh. Tidak terkecuali antum yang saat ini ubun-ubunnya sedang dipegang dan digerakkan oleh Alloh untuk membaca artikel Fa Aina Tadzhabuun.

Wayang
Para leluhur sejak zaman baheula mengibaratkan manusia sebagai wayang. Tentu ada perbedaan diantara keduanya. Namanya saja ibarat.
Perbedaan pertama, wayang dikendalikan dalang bukan dari bagian kepala melainkan dari bagian bokong.
Masih ingat wayang yang di Jabar bernama Dawala atau di Jatim dan Jateng bernama Petruk?.
Karena terserah maunya dalang, kumaha aing, maka Dalang Asep Sunandar Sunarya jadi beken karena membuat lakon aneh, diantaranya berjudul “Dawala Jadi Raja” .
Ingin tahu bagaimana seorang punakawan yang bentuk hidungnya lebih cocok dipakai untuk nakut-nakutin wanita tetapi bisa menjadi seorang raja? Masukkan saja judul lakon itu kedalam search engine-nya www.youtube.com. Saksikan sendiri bagaimana sekali bokong wayang golek dikuasai, tidak ada yang tidak mungkin bagi seorang dalang untuk menjadikan wayang berbuat apa saja. Kumaha dewek.
Perbedaan kedua, wayang golek tidak punya hati, tidak punya mata, tidak punya telinga. Tidak bisa menentang.
Bagaimana dengan manusia?. Ini dia fiman Alloh didalam Al-Quran:
Manusia punya hati, tetapi tidak faham: “Lahum quluubun laa yafqohuuna bihaa.”
Manusia punya mata, tetapi buta: “Walahum a’yunun laa yubshiruuna bihaa.”
Manusia punya telinga, tetapi tuli: ”Walahum aadzaanun laa yasma’uuna bihaa.”
 “Ulaa-ika kal an’aaaaaam, bal hum adlol”. Manusia yang demikian itu bagaikan binatang, bahkan lebih sesat, leuwih atah-adol, daripada binatang. Bangkawarah.
Nah, mending mana? Mending jadi manusia, atawa mending jadi Dawala?

Rentang Waktu

Menjadikannya Alloh atas segala sesuatu, mulai dari hitungan sepersekian detik, sampai hari, sampai bulan, sampai tahun. Semua sesuai dengan kehendak-Nya.
Contoh yang menurut kehendak-Nya terjadi di dalam hitungan detik adalah ketika Sulaiman meminta para ilmuwannya untuk memboyong kursi singgasana sejarak ribuan kilometer, dari istana Bilqis ke istana Sulaiman.
Salah satu dari ilmuwan menyanggupi memindahkan singgasana “Anaa aatiika bihi qobla an yartadda ilaika thorfuka – Hamba sanggup mendatangkan singgasana Ratu Bilqis sebelum Paduka Raja Sulaiman membuka pejaman mata”.
”Yaa Allah Yaa Dzal Jalaali wal Ikroom Innaka ‘alaa kulli syaii-in qodiir - Ya Alloh Dzat Yang Memiliki Keagungan Dan Kemuliaan, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” seru ‘Ashof sang ilmuwan. Dan, JLEG! Seketika Sulaiman membuka mata, seketika itu juga singgasana Bilqis sudah didepan matanya. Ya iya lah, Bilqis cantik-jelita yang menempuh perjalanan sekian lama tentu saja terbengong-bengong ketika melihat singgasananya sudah ada di istana Raja Sulaiman.
Contoh yang menurut kehendak-Nya terjadi dalam hitungan puluhan tahun adalah perjalanan Musa bersama kaumnya yang mencari pintu gerbang Baitul Maqdis. Kurang hebring bagaimana Musa yang tongkatnya bisa menjadi ular. Kurang hebroy bagaimana Musa yang sekali pukulan tongkatnya bisa membelah lautan. Sebuah peristiwa akbar yang tidak pernah terulang dalam sejarah kehidupan manusia, dan tercatat di semua kitab agama samawi. Tetapi untuk menemukan gerbang Baitul Maqdis? Masya Allah, diperlukan waktu 40 tahun!.
Kedua contoh rentang sangat ekstrim tadi – hitungan detik dan puluhan tahun – adalah sama-sama kehendak Alloh: “Kun Fayakun”.
Komparasi ‘aple-to-aple’ yang lebih sebanding adalah kejadian Adam dan Isa. Adam dijadikan JLEG! Langsung dewasa, sedangkan Isa terlahir seperti manusia biasa: dikandung, dilahirkan, dibesarkan, dan dewasa. Kedua kejadian itu ada di beberapa dari 8 ayat tentang “Kun Fayakuun”.

Jebakan Proses
Manusia banyak yang lupa bahwa segala sesuatu adalah kehendak Alloh. Qodar Alloh.
Ketika sebuah pencapaian atau prestasi diperoleh melalui suatu proses yang rumit dan lama, ketika berhasil, seakan-akan keberhasilan itu adalah karena prestasinya, bukan karena kehendak-Nya.
Ingat tulisan tentang KURMAN – mensyukuri manusia di artikel ‘Syukur’ yang lalu?
Alloh memberikan segala sesuatu, rizqi, termasuk pertolongan untuk suatu keberhasilan, adalah melalui perantaraan manusia, tidak ujug-ujug JLEG! jatuh dari langit.
•    Pernah lihat ada orang yang dikenalkan kepada orang lain, lalu setelah mereka dekat, orang yang pertama kali mengenalkan lalu ditinggalkan?
•    Pernah lihat ada orang yang setelah menjadi pejabat, kemudian melupakan orang-orang yang membantu melapangkan jalannya?
•    Pernah lihat yang “menjadi orang” kemudian lupa kepada yang membesarkannya? Menyekolahkannya? Dan menganggap semua itu adalah prestasinya?
Itulah yang dinamakan jebakan proses. Karena prosesnya panjang dan berliku, lalu lupa kepada berbagai pihak yang sebenarnya digerakkan oleh Alloh untuk membantunya.
Bagaimana menghadapi orang yang tidak KURMAN? Jika diingatkan seakan-akan mengundat-undat kebaikan, jika dibiarkan jelas perbuatannya tidak KURMAN. Serba salah, bukan?

Asmarandana
Jika semua perbuatan, termasuk perbuatan dosa-pun, sebagaimana dilakukan Abah Adam, ternyata semua digerakkan oleh Alloh, lalu “fa fiima na’mal? – untuk apa lagi kami beramal?” tanya sohabat kepada Nabi.
Ini dia jawab Nabi: ahli sorga sepanjang hidupnya akan mengamalkan amalan ahli sorga sampai mati saat mengamalkan amalan ahli sorga. Sedangkan ahli neraka sepanjang hidupnya akan mengamalkan amalan ahli neraka sampai mati saat mengamalkan amalan ahli neraka. Dalam artikel terdahulu, yang pertama disebut husnul khotimah dan yang kedua disebut suu-ul khotimah.
Lalu bagaimana “menyiasati” supaya ubun-ubun tidak digerakkan untuk mengamalkan amalan ahli neraka?
Ah, kan Rosulullah sudah mengajarkan seabrek-abrek do’a untuk sukses masuk sorga selamat dari neraka. Do’a-do’a itu saja terus menerus dipanjatkan.
Dalam pupuh Asmarandana, berikut pitutur karuhun:
 “Eling-eling mangka eling. Rumingkang di bumi alam. Darma wawayangan bae. Raga taya pangawasa. Lamun kasasar lampah. Nafsu nu matak kaduhung. Badan anu katempuhan”
Ingatlah, maka ingatlah. Hidup di alam dunia. Hanya sekedar sebagai wayang. Raga tidak berdaya. Kalau langkah tersesat. Nafsu yang membawa menyesal. Badan yang akan menerima akibatnya (di neraka).
 Pilihannya hanya dua: (1) Berdo’a - beribadah - beramal solih pol-polan mengharapkan Alloh mengatakan ”Kun” masuk ke dalam sorga? Atau, (2) Cuek-bebek ibadah malas aras-arasan sampai Alloh mengatakan “Kun” masuk neraka? Na’uudzu billaahi min dzaalika! Fa aina tadzhabuun?
Oleh: Ir.H. Teddy Suratmadji, Msc

Jumat, 02 Desember 2011

Bersyukur (Di Dunia Kita Dihadapkan Pada Dua Persimpangan)


Oleh Dedy Soedijarto

Kita hidup di dunia ini hanya merupakan salah satu dari beberapa tahapan atau siklus kehidupan di dunia ini yang di ciptakan oleh Alloh SWT yang wajib kita lalui sebelum kita menjalani kehidupan yang kekal. Ibaratkan sekolah kita harus melewati yang namanya Alam roh, alam rahim, dunia, alam kubur dan akhirnya surga atau neraka yang merupakan hasil akhir apakah kita lulus atau tidak. Bedanya di sini kita tidak ada yang namanya HER alias ujian ulangan. Kalau kita tidak lulus ya neraka hadiahnya. Di alam dunia ini kita mengalami dua hal yaitu ujian nikmat dan musibah atau kegagalan. Untuk bisa melalui ujian tersebut kita harus bisa yang namanya bersyukur, baik itu atas nikmat ataupun musibah, semua harus di syukuri. Untuk bisa bersyukur kita harus beriman dulu, tau hukum-hukum (berilmu), beribadah serta beramal. Kalau hal itu kita tidak punya niscaya kita tidak akan bisa untuk bersyukur, seperti dalam sebuah hadist “Tidak terjadi pada seseorang kecuali bagi orang iman, jika ia mendapat kegembiraan maka dia bersyukur & jika mendapat kesusahan maka sabar dia (HR.Muslim)” Kita juga harus menjauhi sifat “WAHNA” yaitu sifat yang senang  akan kenikmatan dunia dan takut kepada akhirat. So.... kalau kita mempunyai sifat ini sudah bisa dipastikan hidup kita cukup puas hanya dengan dunia, mengejar kenikmatan dunia yang tentunya hanya sesaat. Karena kehidupan kekal sebenarnya setelah kita mati nanti.
Kenapa kita harus mensyukuri musibah..??? Musibah itu ujian buat kita yang di berikan oleh Alloh SWT yang maha segala-galanya untuk mengetahui apakah hambanya itu beriman atau tidak. Dengan nikmat pasti kita akan mudah sekali untuk bersyukur tapi dengan musibah itu yang susah, bahkan tidak jarang kita malah mengumpat, mencaci bahkan kita menyalahkan Sang Pencipta, nah ini yang harus kita hindari. Dengan sedikit ujian kita lantas jadi kuffur, massyaalloh kita yang rugi akhirat tentunya. Dibalik semua  cobaannya Alloh, Alloh sudah menyiapkan takdir yang terbaik buat kita. Rasa sesal selalu datang terlambat itu sudah Qodar.
Dalam menjalani kehidupan ini, kita di ibaratkan wayang dan Alloh adalah dalangnya, jadi lakon apapun yang di kehendaki sang dalang pasti akan terjadi. Kita sebagai wayang (Umat) hanya bisa berusaha dan berdoa agar kita mendapatkan segala sesuatunya yang terbaik. Sebagai wayang kita patut tunduk dan taat kepada dalang begitupun sebagai manusia kita wajib taat dan tunduk kepada Alloh SWT.
Hidup di dunia ini ibarat kita berada di dua persimpangan jalan, kalau ke kanan surga, kekiri neraka. Kita tinggal memilih, kalau mau ke kanan ya tinggal menetapi, mempersungguh dan mengamalkan Qur’an dan Hadist nah kalau ke kiri ya tinggal melakukan banyak pelanggaran, dapet deh neraka. Masuk neraka itu paling guuuaampang karena neraka itu tempat segala kenikmatan dunia. Contohnya ya berzina, maksiat, tidak iman kepada Alloh intinya. Kalau surga itu sebaliknya, berat dan banyak godaannya. Insyaalloh dengan kita terus mengaji mencari ilmu maka tidak ada yang berat di dunia ini. Di niatkan semuanya karena Alloh insyaalloh kita bisa mendapatkan surga selamat dari neraka. Dalam salah satu firmannya “Alloh berkata, jika engkau lebih mengejar duniawi dari pada mengejar dekat denganKu maka aku berikan,  tapi aku akan menjauhi kalian dari surgaku.....
Semoga coretan ini bisa bermanfaat dan barokah...!!!!!!

Senin, 31 Oktober 2011

Akhlaqul karimah

WA INNAKA LA ‘ALAA KHULUQIN ‘ADZIIM - Dan sesungguhnya engkau Muhammad niscaya memiliki akhlaq yang agung.” Demikian firman Allah SWT didalam Al-Quran Surat Al-Qolam (58:4).

Sebelum diangkat menjadi Rasul, Muhammad adalah manusia yang jujur dan tidak memiliki cela, sehingga dijuluki al-Amin atau orang yang dapat dipercaya.
Demikian dihormatinya Muhammad, sehingga 5 tahun sebelum kenabian ketika terjadi banjir besar di Makkah dan batu Hajar Aswad hanyut dan diperbaiki, para tetua 4 suku di Makkah bertengkar tentang siapa yang berhak untuk mengembalikan batu hitam dari sorga itu ke tempatnya. Karena deadlock – buntu, maka para sesepuh itu akhirnya sepakat menyerahkan pengembalian batu itu ke Muhammad Al-Amin. Padahal ketika itu Muhammad baru berumur 35 tahun.

Sekiranya orang biasa diserahi kehormatan demikian, barangkali dengan rasa pongah dan membusungkan dada dikembalikannya batu itu sendirian. Tetapi tidak demikian dengan Muhammad. Dilepasnya sorbannya, dibentangkannya, diletakkannya Hajar Aswad itu diatas sorbannya, lalu dipersilahkannya para boss suku-suku itu menggotongnya rame-rame ke tempat asalnya di sudut Kabah, sampai akhirnya Muhammad meletakkannya di tempatnya.
Demikianlah contoh betapa mulianya akhlaq Muhammad di mata masyarakat, padahal saat itu beliau belum diangkat menjadi Nabi.



Pasca Kenabian.
Alangkah mulianya ahlak Rosulullah dapat dilihat dari hadits tentang sohabat Anas yang selama menjadi khodam – pelayan Rosululloh tidak pernah sekalipun ditegur Nabi dengan ucapan ‘uffin’ – “Ah!”.
Ketika Anas berbuat sesuatu yang Nabi sebetulnya tidak menghendakinya, tidak pernah sekalipun Nabi menegor “lima shona’tahu?” – mengapa engkau mengerjakan itu?
Ketika Anas tidak berbuat sesuatu padahal Nabi sebetulnya menghendakinya, tidak pernah sekalipun Nabi mengatakan “lima taroktahu?” – mengapa engkau tidak mengerjakan itu?

Boleh jadi ada orang berargumen, ah, itu kan karena Anas memang sohabat yang perfeksionis, orang yang serba sempurna, sehingga selama menjadi khodam tidak pernah berbuat kesalahan.
Sohabat Anas adalah manusia biasa. Siapakah manusia biasa yang bisa melayani tanpa salah, atau bisa dengan tepat menebak keinginan yang dilayaninya selama 10 tahun? Ya, menurut hadits itu, Anas menjadi khodam Nabi selama 10 tahun.
Bagaimana sesama anak Adam memperlakukan sesamanya, Nabi berwasiat kepada para khalifah supaya yu’addzim kabiiirohum– memuliakan orang tua, wa yarhama shoghiirohum dan menyayangi anak kecil. Nah, kalau kepada yang tua dan yang muda saja harus demikian, bagaimana kepada para peers alias yang sebaya?

Al ‘Ulya - As Sufla

Hubungan sesama manusia tidak mungkin terlepas dari al-‘ulya alias ‘yang di atas’ dan as-sufla alias ‘yang di bawah’. Contohnya pemimpin-bawahan, suami-isteri, ortu-anak, kakak-adik, dst.
Bagaimana Islam mengajarkan al-‘ulya harus bersikap kepada as-sufla?

Wahfidz janaahaka limanittaba’aka minal muminiina – Rendahkan sayapmu kepada orang iman yang mengikutimu. Fabimaa rohmatin minalloohi linta lahum – maka dengan rahmat dari Allah lemah lembut engkau Muhammad kepada mereka. Walau kunta faddhon gholiidhol qolbi lanfaddhuu min haulika – jika engkau keras dan kasar hati niscaya bubar mereka darimu Muhammad. Demikianlah beberapa dari perintah Allah yang ada didalam Al-Quran.
Hadits dari Anas diatas sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan bagaimana luhurnya ahlak Muhammad sebagai al ‘ulya kepada seorang Anas sebagai as-sufla.
Umar bin Khottob terkenal galak diluar rumah, tetapi lemah lembut kepada isterinya. Ketika ditanya mengapa demikian, dijawabnya karena isterinya itulah yang melahirkan dan membersarkan anak-anaknya.

Ada lelaki sekarang yang nampak gentleman di luar, tetapi justru galak didalam rumah. Keras kepada isterinya, dan streng kepada anak-anaknya. Mereka stress manakala berjumpa dengan bapak biologisnya sendiri. Ini bukan rekaan. Buktinya ada UU KDRT - Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Tempelengan, bahkan lebih dari itu di kalangan keluarga, masih terjadi. Na’uudzu billaahi min dzaalika.
Sabda Nabi di sebuah hadits: “Alangkah hinanya seorang laki-laki yang berbuat kasar kepada isterinya, siang dipukuli, malam dikumpuli”. Kalau dalam istilah Kang Kabayan: ’beurang digebugan, peuting ditumpakan’.

Waspada Mulut
Nabi ditanya ‘an aktsari maa yudkhilun naasal jannata – tentang apa yang paling banyak menyebabkan orang masuk sorga. Apakah karena jagoan yang siap maju ke medan perang? Apakah karena banyak ilmu yang siap untuk diajarkan? Karena banyaknya harta yang siap untuk disedekahkan?
Ternyata jawab Nabi adalah: ’taqwalloohi wa husnul khuluqi’ – taqwa kepada Allah dan ahlak yang baik.
Lalu Nabi ditanya ‘an aktsari maa yudkhilun naasan naaro – tentang apa yang paling banyak menyebabkan orang masuk neraka?
Ternyata jawab Nabi mengejutkan: ’al famu wal farju’ - mulut dan farji.

Shodaqo Rosululloh, sungguh benar Nabi. Dengan mulut bisa bertengkar, berdebat, berbohong, naminah (adu-domba), ghibah (ngerasani, ngupat, menjelek-jelekkan) dan fitnah, serta memuji orang. Didalam Islam, memuji orang didepannya adalah larangan, karena bisa membunuh niat Karena Allah orang yang dipuji. Menimbulkan rasa riya. Qod qoto’ta ‘unuqo shoohibika – sungguh engkau telah memenggal leher saudaramu, demikian sabda Nabi kepada orang yang memuji orang lain didepannya.
Melaksanakan akhlaqul karimah itu ibarat meniti tangga. Yang menjunjung tinggi akhlaqul karimah ibaratnya menaiki tangga, semakin lama semakin tinggi, sampai ke summit atau puncak pencakar langit. Sebaliknya mereka yang mengabaikan akhlaqul karimah, ibaratnya menuruni tangga, semakin lama semakin rendah. Sampai ke basement.
Sangat banyak aspek tentang akhlaqul karimah. Oleh karena itu mengkhatamkan hadits Kitabul Adab atau ‘Buku tentang Tingkah-Laku’ baik di himpunan maupun di kitab hadits besar, seharusnya menjadi prioritas utama. Alhamdulillah, ternyata ucapan dan tingkah-laku dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, ada adabnya.
Maka alangkah meruginya setelah jungkir balik siang-malam fastabiqul khoirot amal solih di segala bidang kegiatan agama termasuk organisasi, semua menjadi kontra-produktif  mubadzir gara-gara mengabaikan akhlaqul karimah. Bil khusus sesuai hadits diatas gara-gara mengabaikan untuk menjaga bagian yang paling banyak membawa manusia ke neraka: mulut.

Semua sudah pada tahu dalil fal yaqul khoiron au liyasmuth – lebih baik diam daripada mengumbar bicara. Jadi daripada tidak tahan untuk tidak berbicara tidak baik, atau tidak mampu “nasehat pait-madu”, demi mewujudkan akhlaqul karimah, mengapa tidak mencontoh sikap Nabi kepada Anas? Fa aina tadzhabuun?

Di kutip dari: www.nuansaonline.net

Selasa, 18 Oktober 2011

Perempuan Cantik Berakhlak Mulia

Kajian Kitab Bukhari

ditulis: Al-Mukarrom Ustad KH. Shobirun Ahkam,
pimpinan Pondok LDII Mulyo Abadi, Sleman, Yogyakarta
Di waktu fulan yang kaya masih perjaka berpikiran sederhana, “Istri saya harus muballighah.” Ternyata muballighah, yang dinikahi kufur (tidak bersyukur pada suami), diberi uang sebanyak apapun pasti habis dengan cepat, karena bertujuan agar suaminya tidak beruang untuk berpoligami. Kini fulan bertanya-tanya, “Kenapa kepemilikan kekayaan saya sebanyak ini akhirnya diatas namakan istri?.” Fulan yang pandai mengais rizqi itu kini berputusasa.

Fulana bernasib seperti fulan, warisan dari ayahnya berupa tanah yang sangat luas dihabiskan oleh istri hingga tetangganya hampir tak percaya. Tujuan istrinya juga agar suami tidak berkutik dan tidak berpoligami. Fulano dan fulang yang pejabat kaya-raya juga bernasib agak sama, dihalang-halangi mengaji oleh istri karena dikhawatirkan berpoligami. Memang termasuk yang paling berbahaya dalam kehidupan ini adalah wanita yang berakhlaq jelek. Jika hak lelaki dan wanita disamakan secara mutlak, pasti kaum hawa yang tak beruntung dan kaum lelaki akan terdesak. Inilah yang dimaksud, “Dzaalika adnaaa anlaa tauuluu (ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا), yang artinya: Itu upaya pendekatan kearah agar kalian tidak mendesak atau mengalahkan (suatu fihak). Maksudnya adanya Allah menjelaskan ayat-ayat berkenaan akhlaq adalah sebagai upaya pendekatan agar tidak ada fihak yang mendesak fihak yang lain.

Kenapa kaum hawa yang kaya, cantik, atau kejam, yang akan berkuasa di dalam kehidupan. Karena mereka punya senjata dahsyat, berhujah dan bertindak yang bisa membuat lelaki bisa iba atau tersudut atau takut. Orang terpandai sejagad SAW pun pernah tersudut dan iba pada wanita sehingga berani mengharamkan yang telah dihalalkan oleh Allah untuk beliau. Alhamdu lillah lalu Allah memberi wahyu yang menyadarkan pada belliau SAW. Kajian ini bukan untuk menyudutkan wanita berakhlaq jelek, tapi justru untuk menyadarkan pada semua fihak. Untuk itu penulis membedah Hadits Bukhari:
صحيح البخاري - ج 2 / ص 3
293 - حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ أَخْبَرَنِي زَيْدٌ هُوَ ابْنُ أَسْلَمَ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ إِلَى الْمُصَلَّى فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ قُلْنَ وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا
Artinya (isnadnya tidak diartikan):
Ubu Said Al-Khudri RA berkata, “Rasulullah SAW pernah keluar di waktu Idul-Adha atau Idul-Fitri menuju tempat shalat. Lalu beliau lewat bertemu para wanita untuk bersabda ‘hai para wanita, shadaqahlah! Sungguh saya telah menyaksikan kalianlah lebih banyaknya penghuni neraka’. Sontak mereka berkata ‘kenapa ya Rasulallah?’. Nabi bersabda ‘kalian sering melaknat dan mengkufuri suami. Saya belum pernah mengerti orang-orang yang kurang akal dan agamanya yang lebih menghilangkan lubb (akal yang bersih dari hawa-nafsu dan emosi) daripada seorang kalian’.[1] Mereka bertanya ‘bagaimana kurangnya agama dan akal kami, ya Rasulallah?’. Nabi bersabda ‘bukankah (Allah menentukan) persaksian seorang wanita semisal setengah persaksian seorang pria?’. Mereka menjawab ‘betul’. Nabi bersabda ‘itu karena kurangnya akalnya. Bukankah jika haid tidak shalat dan tidak berpuasa?’. Mereka berkata ‘betul’. Nabi SAW bersabda ‘itu karena kurangnya agamanya’.”

Laknat, cercaan, cemoohan, mengkufuri, mencela, menangis, mengamuk, marah, adalah yang menjadi senjata andalan wanita. Ketika sejumlah wanita jelita ingin melihat Nabi Yusuf AS juga menggunakan cemoohan yang menyakitkan perasaan Zulaikha, “Masyak istri yang mulia secantik itu merayu pada budaknya. Sungguh landaan cintanya telah menguasainya. Sungguh kami berpandangan dia di dalam kebodohan yang nyata.” Walau Zulaikha marah, tapi mereka berhasil melihat Yusuf AS.

[1] Penulis mengartikan akal yang bersih dari hawa-nafsu dan emosi pada, “Lubb,” karena merujuk pada:
فتح الباري لابن حجر - ج 1 / ص 476 وَاللُّبّ أَخَصّ مِنْ الْعَقْل وَهُوَ الْخَالِص مِنْهُ

Senin, 03 Oktober 2011

Pengajian Umum DPC LDII Desa Jogjarejo Kab.OKU Timur Sumsel



Ada sebuah pepatah kuno yang mengatakan "Tuntutlah Ilmu sampai Kenegeri China". Tidak asing lagi ditelinga kita tentang pepatah ini tentunya, menyikapi hal itu Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) DPC  LDII Desa Jogjarejo pada hari minggu tanggal 18 September (18/9) mengadakan Pengajian Umum Desa yang di ikuti sekitar 12 PAC LDII  yg meliputi: Jogja Barat, Jogja Timur, Jogja selatan, Metro, Karang Tengah, Kedu, Sri Dadi, Sumber Agung, Suko Dadi, Rawa Bening, Serdang Kuring, serta Berasan dan di hadiri sekitar 300 jamaah.

Pengajian yang rutin di agendakan oleh pengurus enam bulan sekali ini di  isi oleh Bpk.Mukhlis, Bpk. Suyanto, Bpk.Untung Budiman, Bpk.H. Imam Nur Khoiri, dan di tutup oleh Bpk.Ngabidin yang  bermaterikan Makna Al-Qur'an, Makna Al-Hadist, dan Nasihat Pemantapan Yang bertujuan untuk meningkatkan tali silaturahmi serta keakraban bagi setiap jamaah, Selain itu pula menyikapi banyaknya pengaruh negatif dari luar yang begitu pesatnya maka hal ini juga bertujuan me refresh kita atau menyegarkan iman kita untuk membentengi  diri dari bahaya pengaruh tersebut.                                                                                                                                                                                                                                                 
Seperti Nasihat yang di sampaikan Bpk.H.Imam Nur Khoiri "
Dalam Al Quran dan Al Hadist telah dimuat ketentuan-ketentuan, hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan perintah atau larangan, halal atau haram, pahala atau dosa dan surga atau neraka.
Umat Islam yang beribadah kepada Allah dengan berpedoman murni pada Al Quran dan Al Hadist tidak dicampuri dengan perbuatan syirik, khurofat, tahayul dan maksiat serta didasari niat karena Allah, semata-mata tujuan mencari Surga Allah dan takut akan siksa Allah berupa Neraka dijamin; Pasti Benar, pasti sah, pasti diterima oleh Allah dan pasti masuk surga selamat dari neraka sesuai dalil di bawah ini:

وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan sesungguhnya ini (Al Quran) adalah jalanKu yang benar maka ikutilah, dan janganlah mengikuti setiap jalan, maka akan tersesat kamu sekalian dari jalan Allah”.(QS Al An'am ayat 153)
3. Quran Surat Al Hasr ayat 7
مَّا أَفَاء اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاء مِنكُمْ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan apa-apa (peraturan) yang Rasul datangkan pada kalian maka ambillah, dan apa-apa yang Rasul melarang maka jauhilah”.(QS.Al Hasr ayat 7)

Sabda Rosulullah SAW:
عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ بَلَغَهُ أنَّ رَسُولِ اللهِ صَلَى اللَّه عَلَيهِ وَسَلَمَ قَالَ تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابِ اللهِ وَ سُنَّةِ نَبِّهِ * رواه مالك فى الموطأ
“Aku (Nabi) telah meninggalkan kepada kamu sekalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat (pasti benarnya) selagi berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitabillah (Al Quran) dan Sunah Nabi (Al Hadist)”.
Hadist riwayat Malik

فَإنَّ هَذَا الْقُرْأَنْ طَرَفُهُ بِيَد اللهِ وَ طَرَفُهُ بِأَيْدِكُمْ فَتَمَسَكُوْا بِهِ، فَإِنّكُمْ لَنْ تَهْلِكُوْا وَلَنْ تَضِلّوْا بَعْدَهُ أَبَدًا * رواه الطبرانى
“Maka sesungguhnya ini Al Quran ujungnya yang satu di tangan Allah dan ujung satunya di tangan kalian, maka berpegang teguhlah pada Al Quran. Maka sesungguhnya kalian tidak akan rusak selamanya (pasti selamat) dan tidak akan tersesat (pasti benar) bila berpegang tteguh pada Al Quran”.
Hadist riwayat Thobroni

By.Dedy Soedijarto

Kamis, 15 September 2011

Pengajian Desa Semalam Suntuk

Pengajian Desa Semalam Suntuk

Pengajian ini dilaksanakan rutin pada Malam minggu kedua setiap bulannya. Pengajian ini bertujuan untuk menambah Wawasan, Ilmu Serta kefahaman bagi Generus (Generasi Penerus). Selain tujuan itu, pengajian ini juga di tujukan untuk menghindarkan dari perbuatan-perbuatan maksiat bagi generus yang biasa kita temui pada khalayak ramai apabila malam akhir pekan tiba. Biasanya hal tersebut berwujud kegiatan berfoya-foya, Mojok alias nyepi dengan pacarnya...hal tersebut di khawatirkan akan menjerumuskan generasi kita ke hal-hal negatif. Peran serta orang tua juga sangat di perlukan dalam pengawasan terhadap ketertiban anaknya dalam hal Ibadah, pengajian ini juga wujud dari pembinaan yang tak kenal menyerah bagi pengurus muda/i LDII. LDII Makin maju dengan generasi-generasi yang briliant, Beriman serta berwawasan luas.

Sekarang sudah tidak heran lagi kalau kita dengar sepasang pengantin dengan gelar MBA gelar prestisius dari luar negeri sepertinya, tapi sekarang sring di plesetkan dalam bahasa jawa menjadi (Married By Accident)  sungguh ironis ya..menikah karena kecelakaan alias hamil duluan. Ditinjau dari jumlah penduduk, Indonesia menempati lima besar dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, dan mayoritas penduduknya beragama Islam. Hal ini berbanding terbalik dengan fakta di atas. Jumlah pernikahan dengan gelar MBA juga tidak kalah banyaknya.

Ini merupakan tantangan bagi kita warga LDII, khususnya pengurus untuk mendidik, membina, serta mengawasi generasi penerus kita supaya tidak terbawa dalam pergaulan yang salah. apalagi sekarang jaman canggih, jaman kemajuan tekhnology yg luar biasa. Dengan sekali pencet kita sudah bisa terhubung dengan dunia maya alias INTERNET. Yang nota bene internet berisi milyaran bahkan triliyunan informasi yang berisi bermacam-macam informasi, baik yang positif information ataupun yang negatif information. Kalau generus kita tidak kita bekali dengan iman yang kuat niscaya mereka akan terjerumus kedalamnya. Yang akan menimbulkan pengaruh-pengaruh buruk kedalam generus yang kita bina ini. Internet bukan LAHAN, TV bukan LAHAN tapi yang lahan adalah ada di dalam hati dan kadar keimanan kita. Ibarat Pisau akan mendatangkan keburukan seandainya di pakai menodong, tapi pisau juga sangat bermanfaat di dapur ibu kita. Semua tergantung manusianya, apakah akan memanfaatkannya untuk kebaikan atau sebaliknya. Tidak jarang sekarang media INTERNET kita gunakan sebagai media dakwah contohnya: www.ldii.or.id, www.nuansaonline.net, www.jokambelitang.blogspot.com dan masih banyak lagi. Saya juga pernah membaca di Nuansa Persada kalau LDII DKI Jakarta pernah mengadakan Diklat Cyber Dakwah di Pan Pacific Hotel waktu itu. Kita sebagai warga LDII juga jangan sampai ketinggalan untuk memanfaatkan hal tersebut untuk Beramar makruf nahi munkar.

Oleh: Dedy Soedijarto